Bom yang saat meledak di Hotel JW Mariot dan Ritz-Carlton juga meledakan amarah SBY. Reaksional SBY yang membara malah membawa reaksi yang lain. Kemarahan dan kegeraman SBY dianggap berlebihan. Petinggi negeri yang menyebut adanya eskalasi politik yang sedang tinggi, malah membuat perang antara elit politik.
Mega-Prabowo pun terpancing emosi. Saingan pasangan capres itu tak terima dengan tudingan SBY. Apalagi, foto yang diusung SBY—-tentang dirinya menjadi sasaran target teroris—-merupakan foto tahun 2004. Ini tentu saja menimbulkan kesan, SBY seakan-akan memanfaatkan momentum bom ini untuk menembak lawan politiknya.
Kita semua tentu tak ingin, pernyataan tersebut menjadi bola panas yang membuat negeri ini—-yang sudah menderita—-semakin menderita. Kita juga tidak ingin ada persoalan baru di negeri ini. Ledakan bom saja sudah memunculkan trauma mendalam. Kenapa harus ditambah dengan masalah pernyataan yang menjadi bahan perang elit politik.
Tidak ada salahnya bila Presiden mengklarifikasi pernyataan itu. Atas nama kearifan, SBY sebagai kepala negara harus menjelaskan duduk permasalahan, sehingga tidak menjadi bola liar. Dan tentunya pula, tidak menjebak rayat dalam isu-isu politik. Jadi sudahlah. Kita Tidak Ingin Bertambah Ruwet. Sudahlah.
Belum Ada Tanggapan
Belum ada komentar.
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan sebuah tanggapan






