Serenada Duka..

Begitu airmatamu kering, Adinda basuhlah muka dan bersujudlah
Bukankah Ebiet G Ade berrisalah; Tak guna engkau berlari mengejar mimpi yang tak pasti ….
Maka biarkan bait bait itu …
… tinggal dalam keindahan kata
Sesungguhnya cerita tentang kita hanyalah secuil fatamorgana senja
datanglah bila hatimu rindu tapi jangan lagi ucapkan; cinta …
*From RDK*

Resolusi Tahun Baru (again)

Kembali aku merajut imaji

menepis nyata dan menyulam mimpi

Memupuk harap akan suatu yg tak pasti

 

Tapi entah mengapa aku menikmati

perih nya penantian di ujung hari yg semakin tak pasti

 

Semakin lama asa ini semakin enggan bicara.

Dia menyerah pada kehendak mimpi dan imaji.

Dia bertekuk lutut pada perih dan sepi yg tak henti mewarnai

 

Asa itu semakin membisu dan mulai pergi………jauh melayang

Meninggalkan aku sendiri…

Membisu bersama asa………

Menangis Bermalam-malam..

Sepertinya aku melakukan Re-post, tapi memang ini kembali yang kurasakan.. Tepatnya di bulan Oktober. Dan kembali, Ini bukan judul lagu. Atau sebuah puisi di siang hari. Namun memang kenyataan yang terjadi pada diri ini. Ah, Kalau ditilik, sudah lama aku tak menangis sampai sakit seperti ini. Dan sudah lama juga, hati ini ku tameng sedemikian rupa, agar tak menangis. Namun malam itu, semua pertahanan itu hancur. Hati ini menangis, jiwa itu meleleh. Aku menangis semalaman.

Mungkin yang menjadi penyebab tak usah dijelaskan. Tapi yang pasti garis besar masalah hati, suatu kekecewaan yang tak diinginkan. Saat hati ini menginginkan suatu dan menyadari sesuatu, namun dihempaskan dengan keras. Kecewa, sakit dan menyesal. Hingga akhirnya perih itu berubah menjadi tangis.

Entah sudah berapa lama aku tak menangis. Selain bukan seorang wanita yang gampang menitikan air mata, juga berbagai cobaan di diri tak pernah kulalui dengan tangisan. Di teror seseorang, kabar kematian saudara, ataupun kisah percintaan yang berakhir pilu, tak membuatku menangis sesegukan seperti malam di bulan Oktober itu.

Terakhir yang ku ingat, diri ini menangis, ketika kakakku yang laki-laki menikah dengan wanita yang semula memang tak kuinginkan. Menangis hingga berhari-hari. Tak terima dan perasaan sakit hati, berkecamuk hebat. Nah itu pun, sudah 4 tahun lamanya.

Aku sendiri bertanya-tanya, kenapa bisa menangis saat itu? Kemana sosok seorang Vinna yang tegar? Apakah kerapuhan ini sosok aslinya? Atau hanya suatu akumulasi tegar yang berkumpul dan ditahan selama ini, meledak seketika. Ah, aku tak tahu jawabnya.

Namun yang pasti, pagi harinya aku menarik kesimpulan. Bahwa menangis itu perlu. Menangis akan membersihkan mata dari segala bentuk racun atau debu yang menempel padanya.

Dengan menangis, perasaan emosi, rasa sedih, marah, dan perasaan-perasaan lain yang seringkali menimpa manusia akan lebih terjaga.

Dan dengan menangis, kita menjadi tahu perasaan kita sebenarnya. Dan juga lebih berhati-hati untuk kedepannya.

Pemerintah dan Media Belajarlah dari Jepang

Gempa dan tsunami yang mengguncang Jepang, memang membuat warga Kota Padang tergidik. Bagaimana tidak? Sebanyak 1 juta warga Padang berada di zona merah.  “Sudah waktunya pemerintah harus fokus bencana. Jangan selalu reaktif dan terdiam. terlebih lagi tidak berfungsinya alat pendeteksi gempa dan tsunami,” lontar Wapemred Padang Ekspres Heri Sugiarto kepada Pemred Padang TV, Vinna Melwanti dalam diskusi Dapur Redaksi, Sabtu (19/3).

Peristiwa di negara matahari terbit itu memang dahsyat. Tsunami setinggi 10 meter membuat jutaan rumah dan ribuan infrastruktur hancur dan Jepang lumpuh total. Padahal negara ini yang paling siap dalam menghadapi segala kemungkinan bencana, baik gempa maupun tsunami. Lalu bagaimana dengan daerah kita yang juga masuk dalam jajararan rawan bencana? Seberapa siapkah kita?

“Sangat belum siap. Bahkan tak hanya yang akan kita kerjakan, pekerjaan rumah sebelumnya banyak yang tak selesai. Bukan saja jalur evakuasi by pass yang digadang gadangkan masih terkatung, bangunan yang tak ramah gempa, hingga kurikulum pendidikan gempa yang juga tak kunjung selesai,” sambar Pemred Posmetro Padang, Sulaiman Tanjung menjawab pertanyaan.

Jika dibandingkan dengan kesiapan. Kita memang jauh. Jauh sekali. Namun yang pasti infrastruktur, perhatian pemerintah dan kesadaran warganya, harus segera diprioritaskan. “Kita pun harus mengevaluasi zona shelter yang saat ini dibangun. Karena bisa saja, zona itu berubah jika dilihat dari kekuatan 25 KM Jepang. Selain itu simulasi dan kegiatan pemantapan prilaku masyarakat dalam menghadapi kemungkinan terjadi gempa dan tsunami, tambah Heri.

Disisi lain, Vinna juga mengupas bagaimana media menjadi dua sisi mata uang yang dilema dalam memberikan informasi bencana. Apalagi memberitakan isu yang sedang berkembang di tengah masyarakat. Menjadi kabar penakut, atau memberikan informasi yang sebenarnya kepada masyarakat.

“Kita mengolah isu menjadi suatu yang bermanfaat. Masyarakat harus diberikan fakta informasi. Dan juga media harus memberikan ruang informasi dan tips tentang menghadapi bencana. Tentunya mendorong pemerintah agar konsen terhadap pembangunan yang berwawasan mitigasi,”  urai Tanjung.

Semoga saja, kita belajar tak hanya selalu berada dalam tataran konsep. Pembelajaran Aceh, Jogya dan Mentawai serta Jepang ini makin membuat Sumbar naik kelas dalam hal kesiapan mitigasi. Saksikan Program dapur redaksi yang ditayangkan setiap Sabtu pukul 20.00 WIB ini mengupas berita yang diangkat dalam seminggu, di Harian Pagi Padang Ekspres dan Posmetro Padang. Saksikan hanya di Padang TV. (vin)

Antara ada dan Tiada

Ketika Ilusi Lebih Indah dari Kenyataan

Manusia, sesungguhnya, hidup didalam ILUSI. Kenyataan yang seolah menempatkan Manusia hidup bersentuhan dengan FAKTA pada kenyataannya adalah sebuah ILUSI karena seringkali FAKTA KEHILANGAN REALITASNYA didalam kehidupan Manusia. Itulah sebabnya, DERITA seseorang belum tentu merupakan DERITA bagi orang lain, dan KEBAHAGIAAN seseorang belum tentu pula sebuah KEBAHAGIAAN bagi pribadi lainnya. Setiap orang membangun DUNIA miliknya sendiri, didalamnya ia menimbun makna dan segala keyakinan hidup yang lalu menjelma menjadi BANGUNAN REALITAS BAGI DIRINYA SENDIRI. Dengan cara itulah seseorang hidup, karena dengan membangun dunianya maka ia membangun dirinya sendiri pula. Dunia dan diri yang dibangun secara berbarengan ini, tak pelak lagi, merupakan PURI TERPENCIL ditengah padang luas; ia TERASING didalam angan dan harapan miliknya sendiri. Padang rumput yang terbentang luas, adalah kelana asing yang disangkanya kejam dan menakutkan. DISANGKANYA.

Pernahkah kau keluar dari ‘zona amanmu’?
Hal apakah yang kau rasakan tatkala bersentuhan dengan sesuatu yang mulanya kau ‘sangka’ asing dan kejam itu?
Ketika kau dapat beradaptasi dengan REALITAS BARU itu, dapatkah kau hidup dengannya?
Bila jawabmu adalah AKU DAPAT HIDUP DENGAN KENYATAAN BARU, maka, tepat pada saat itu pula kau tengah membangun REALITAS BARU BAGI DUNIA BARUMU..

Padang TV Makin Manjulang

Empat tahun sudah usia Padang TV.  Berbagai  aral yang menyapa, membuat usia yang dini ini menjadi matang. Bagaimana tidak, pasca gempa yang sempat membuat perekonomian Sumbar tergoncang dan berdampak omset perusahaan, bisa teratasi. Orientasi sosial pun makin kita hadirkan dalam bentuk program-program sosial, agamais dan menghibur.

Tetap memberikan informasi dalam kondisi apapun, memang menjadi salah satu prinsip Padang TV. Begitupun dalam kondisi pasca gempa. Meski dalam kondisi emergensy, Padang TV tetap siaran dan menyuguhkan informasi tanpa henti.

Usia ini pun menjadi ajang refleksi bagi tivi kita. Kita akui memang masih belum sempurna. Baik dari sisi pelayanan, kualitas gambar, kualitas audio dan penyajian informasi. Itu semua akan menjadi perhatian kita dalam melakukan pembenahan menuju kualitas.

Dimomen 4 tahun ini, selain tetap mengusung konten lokal, kami fokus kepada edukasi. Memberikan program pencerahan dan  mengarah makin intelektual. Selain itu, kami akui keinginan pemirsa yang menginginkan Padang TV hadir di semua daerah, karena itu kami akan terus mempelebarkan jangkauan.

Kedepannya, dengan semangat inovasi dan kreativitas, kami terus hadir memanjakan keinginan pemirsa. Selain membuat survei pemirsa secara rutin, rating program akan terus kita tingkatkan. “Kami tetap komit untuk terus menciptakan program-program yang inovatif, cerdas, tajam dan menjadi trendsetter di industri pertelevisian lokal. Dan tentunya dengan conten lokal yang menjadi kebanggaan bersama warga Sumbar,” ungkap GM Padang TV, Rita Gusveniza didampingi Pemred Padang TV Vinna Melwanti.

Terakhir kami mengucapkan terimakasih kepada para pihak. Dan tentunya kepada semua kru Padang TV yang dengan semangat muda, kekompakan dan semangat kekeluargaan, Padang TV bisa terus berada menjadi media di tengah masyarakat. Padang TV, makin Manjulang!(vin)

Menakar Sumbar 2011

Menengok kembali perjalanan Sumbar satu tahun terakhir. Setidaknya ada dua aspek yang bisa dipotret. Pertama, dalam potret peristiwa. Kedua, Sumbar dalam potret angka-angka pembangunan.
Di awal 2010, Sumbar masih berbenah pasca gempa 30 September 2009. Pemulihan mental korban, perbaikan infrastruktur, dan menggiatkan kembali aktivitas ekonomi sembari menarik investor agar tak beralih.

“Bagaimana media memandang usaha Pemerintah dalam melakukan recovery terhadap hal ini?” tanya Pemred Vinna Melwanti kepada Pemred Posmetro Padang Sulaiman Tanjung dalam Dapur Redaksi di Padang TV, Sabtu (8/1) pukul 20.00 WIB.

Meski memberi apresiasi, sebab dari data BPS menyatakan, pertumbuhan paling tinggi terjadi pada sektor perdagangan, hotel, dan restoran yang tercatat sebesar 6,66 persen. Ini boleh dikatakan Sumbar termasuk daerah yang relatif cepat bangkit pasca bencana. “Namun yang kita lihat adalah daya serap terhadap anggaran yang kurang,” katanya.

Sementara Wapemred Padang Ekspres Nashrian Bahzein juga mengingatkan pada medio 2010, tepatnya 7 Mei, berlangsung pilkada serentak terbesar di Indonesia. Sebanyak 13 daerah dari 18 kabupaten/kota menghelat pemilihan kepala daerahnya. “Media pun mencatat terjadi suhu politik yang panas, meskipun akhirnya kita menjadi pionir penyelenggaraan pilkada yang aman,” sambung Pemred Padang Today, Reviandi Iwan Syahputra yang akrab disapa Gope.

Hingganya perjalanan Sumbar 2010 boleh dikatakan tidak ringan. Bencana alam beruntun disertai prediksi gempa susulan telah mempengaruhi psikologi masyarakat. Hal ini menjadi poin penting dalam menyongsong tahun 2011. “Sekali lagi, perlu sinergi. Sinergi yang muncul dari kesadaran utuh dalam menjalankan peran masing-masing, mulai dari pemerintah, masyarakat, sampai perantau. Ini menjadi kunci Sumbar menyongsong 2011,” tukuk Vinna Melwanti menyimpulkan.  (vin)

 

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.