Eksodus Terbesar di Trans TV

Trans200Membaca cerita ini, cukup membuatku tercengang. Eksodus yang besar-besaran terjadi di salah satu TV yang punya kelas tersendiri di masyarakat. Ratusan karyawan termasuk para reporter kebanggaan hengkang secara bergilir, sedikit membuat Pien bergidik. Sebegitu parahkah manajemen di perusahaan yang jadi trade mark baru di dunia jurnalis Indonesia saat ini. Sebegitu tak acuhnya kah mereka menahan gelombang itu. Sebegitu tak berhargakah kreativitas dan kerja keras seorang jurnalis? Ah…Aku tak tahu..
Namun, terlepas dari itu, semoga perusahaan pers yang berada di Padang, Sumbar tidak mengikuti jejak dan segera merapihkan ego dan diri. Lebih memikirkan karyawan, tidak melulu visi bisnis dan menjual harga diri mereka yang punya loyalitas dan dedikasi tinggi. Kalau tidak, mungkin itu bisa saja terjadi, mungkin saja…..

Berikut cerita Ironi yang mampir di milis aku

Ketika pertama kali aku main-main ke Trans TV di daerah Mampang, Jakarta Selatan, aku melihat ada sesuatu yang menarik. Saat itu aku duduk di Coffee Bean; sambil nungguin Prabu Revolusi. Dari kursiku, aku bisa memandang begitu banyak orang berseragam hitam hitam berseliweran di lobi utama Trans Corp. Dan aku melihat adanya kebanggaan di wajah mereka semua mengenakan seragam hitam-hitam itu.

Kata salah seorang campers (camera-person) Jelang Sore yang aku kenal, tiap karyawan Trans akan merasa bahwa seragam mereka itulah yang mengikat hati mereka dan membuncahkan kebanggaan mereka menjadi karyawan Trans.

Terutama bagi anak-anak baru. “Istilahnya, gak usah pake duit asal kamu pake tu seragam pasti bisa dah dipake buat ngelamar anak orang..” katanya.

Aku sendiri melihat bahwa Trans TV memang memiliki citra yang sangat positif sebagai salah satu perusahaan yang paling dituju oleh lulusan S1 setelah mereka lulus kuliah. Masih ingat kan, program rekrutmen Trans TV bulan Januari 2007 yang masuk rekor MURI karena jumlah pesertanya yang mencapai lebih dari 100.000 pelamar..? Itu saja sudah menunjukkan betapa tinggi citra merek Trans TV di mata masyarakat Indonesia. Dengan demikian, mestinya orang-orang berseragam hitam-hitam yang aku lihat di lobi TransCorp memiliki kebanggaan yang besar bisa lolos seleksi dan bekerja di salah satu perusahaan idaman para pencari kerja. Paling tidak, itulah dugaanku semula..

Namun sejak akhir 2007, aku mendengar kabar bahwa banyak karyawan Trans TV yang sudah dan akan mengundurkan diri dalam waktu dekat. Awal 2007, presenter-presenter handal Trans TV seperti Mohammad Rizky Hidayatullah, Tina Talissa, Afaf Bawazier, Budi Irawan, Hanum Rais, dan lain-lain sudah hengkang ke stasiun TV lain, pada akhir 2007 gelombang eksodus itu mengalir lagi. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung. Dalam empat bulan hingga Desember 2007, jumlah presenter, reporter, campers, dan karyawan produksi Trans TV yang hengkang mencapai lebih dari 60 orang!! Dan yang hengkang bukanlah orang-orang sembarangan. .!! 90% dari mereka yang hengkang adalah mereka yang memiliki dedikasi yang tinggi pada pekerjaan dan kinerja yang luar biasa.

Mau contoh? Ratna Dumila, presenter cantik lulusan Fakultas Hukum UNAIR
yang sudah digadang-gadang Chairul Tanjung menjadi ikon Trans TV bersama Prabu Revolusi, secara mendadak hengkang ke TV-One. Tidak hanya Mila, yang juga memutuskan ikut dalam gelombang eksodus itu termasuk juga presenter kesayangan pemirsa Trans TV Githa Nafeeza, Reza Prahadian (wartawan kepresidenan Trans TV), Divi Lukmansyah (Koordinator seluruh presenter Trans TV), Iwan Sudirwan (Kepala Divisi – boss besar seluruh program berita Trans TV), bahkan sampai produser Reportase Investigasi yang menghasilkan liputan-liputan luar biasa tentang tahu berbahan formalin, bakso daging tikus, atau obat-obatan daur ulang.

Bayangkan kalau 60 orang dengan kualitas sehebat itu kemudian pindah dalam waktu yang hampir bersamaan..! ! Dan gelombang eksodus itu bahkan masih berlanjut sampai Maret 2008, meskipun jumlah yang keluar tidak sebanyak tahun 2007. Tapi, bila ditotal, jumlah mereka yang memutuskan untuk hengkang dari Trans TV sejak tahun 2007 sampai dengan Maret 2008 mencapai hampir 100 orang. Buatku, itu suatu jumlah yang luar biasa..!!!

Kedekatanku dengan beberapa reporter, presenter, dan campers Trans TV memungkinkan aku untuk bertanya-tanya pada mereka tentang apa yang sebenarnya terjadi. Mereka semua menyampaikan jawaban yang senada, yaitu bahwa mereka merasa bahwa Trans TV kurang memberikan penghargaan atas apa yang mereka lakukan buat perusahaan. Dedikasi dan loyalitas yang mereka berikan ternyata tidak disambut dengan sepadan oleh perusahaan. Hal ini membuat kebanyakan orang-orang terbaik Trans TV memilih untuk hengkang, meskipun kenyamanan atmosfir kerja di Trans TV masih belum bisa ditandingi oleh stasiun TV lainnya di Indonesia.

TransTV reporterDengan informasi sebatas itu, saat itu aku masih bertanya-tanya. Karena menurutku, biasanya orang-orang media, apalagi yang memiliki kinerja yang bagus, kebanyakan lebih mementingkan kondisi kerja yang kondusif. Kenyamanan lingkungan kerja bagi pekerja profesi, biasanya, jauh lebih
penting dibandingkan penghargaan, apalagi penghargaan berupa uang.

Jadi, aku merasa bahwa mestinya ada hal lain yang membuat orang-orang terbaik Trans TV hengkang dan mencari pelabuhan baru pada waktu yang hampir bersamaan. Baru pada awal bulan lalu aku menemukan jawabnya. Dari perbincangan dengan beberapa orang teman Trans TV, aku menemukan sesuatu yang sangat menarik. Sekaligus mengherankan. Ternyata di antara Stasiun TV swasta nasional lain di Indonesia, Trans TV adalah stasiun TV yang menawarkan penghasilan PALING RENDAH. Bahkan, standar gaji Trans TV setara dengan standar gaji stasiun TV lokal seperti Banten-TV atau JTV..!!

Ingat, program rekrutmen Trans TV Januari 2007 yang masuk MURI yang tadi sempat aku singgung? Mereka yang direkrut dari program itu menerima take home pay Rp 1.500.000,- plus uang makan Rp 10.000 per hari masuk. Pernah lihat iklan rekrutmen presenter, reporter, dan campers yang dilaksanakan di kampus-kampus di Surabaya (UNAIR), Yogyakarta (UPN), Bandung (UNPAD) pada bulan April 2008?
Mereka yang lolos rekrutmen itu akan (masih rencana nih…) menerima take home pay Rp 1.700.000,- plus uang makan Rp 10.000 per hari masuk. Mereka yang memiliki jatah sebagai presenter acara di TV, seperti Prabu Revolusi (Reportase Sore dan Reportase Investigasi) , Ryan Wiedaryanto (Reportase Sore dan Reportase Akhir Pekan), atau Sharah Aryo (Jelang Sore) lebih beruntung. Karena mereka juga mendapat honor presenter, yaitu kurang lebih Rp 70.000 untuk sekali tampil.

Aku begitu kagetnya mendengar informasi itu. Terbayang olehku ketika
aku ikut proses liputan Jelang Sore di Surabaya dan Bandung yang begitu
melelahkan. Dan untuk itu hanya mendapat penghasilan segitu..??Pantaskah..? ?? Gak usah bilang pantas atau tidak pantas deh. Cukupkah
untuk hidup..??? Uang kos di daerah Mampang berkisar Rp 600.000 sebulan
dengan fasilitas minimal dan langganan banjir, buat beli makan malam kurang lebih Rp 15.000 sekali makan di warung sederhana, belum buat beli pulsa HP, buat transpor ojek yang Rp 5000 dari tempat kos ke kantor Trans TV, buat sekedar jajan atau nonton kalo lagi malam mingguan. Berapa yang masih tersisa dan cukup untuk ditabung…? ??

Bukan cuma itu. Dari informasi itu pula, aku jadi tahu bahwa take home pay karyawan Trans TV yang sudah menduduki jabatan Produser sebuah program (yang notabene tinggal di Jakarta) ternyata masih lebih rendah dibandingkan take home pay rata-rata PNS dosen Universitas Airlangga..! !!

Aku tak mampu berkata apa-apa. Karena aku jadi langsung tahu, sangat rasional kalau seorang presenter berita Trans TV yang sudah cukup senior dengan take home pay berkisar Rp 2,5 juta sampai 3 juta per bulan langsung memutuskan untuk pindah begitu ditawari oleh TV-One take home pay tiga kali lipatnya. Seorang presenter berita Trans TV dengan gaji sebesar Rp 2,5 – 3 juta sebulan masih punya kewajiban untuk turun ke lapangan melakukan liputan seharian penuh, kembali ke kantor untuk mengedit liputannya sekaligus melakukan VO (Voice Over atau Dubbing), lalu menyiapkan materi liputan besok atau bersiap-siap tampil menyajikan berita, dan baru pulang ke rumah pukul 21 untuk kembali masuk pukul 8 pagi esok harinya.

Kebayang gak, gimana kehidupan presenter atau reporter Trans TV yang sudah berkeluarga. .? Dengan jam kerja yang begitu panjang, deadline yang begitu ketat, dan penghasilan yang begitu seadanya, apa yang dapat mereka berikan dengan layak untuk istri dan anak mereka..?
Seorang karyawan dengan loyalitas dan dedikasi tinggi sekalipun pasti akan terpaksa berpikir rasional dan menerima tawaran lain yang lebih manusiawi. Mungkin saja mereka tidak akan dapat merasakan suasana kerja yang senyaman di Trans TV, tapi aku yakin mereka akan dapat menerimanya
(dengan terpaksa) demi tuntutan hidup yang harus mereka penuhi.

Aku bisa memahami itu semua kini, mengapa begitu banyak orang-orang hebat Trans TV yang memilih untuk mencari tempat yang baru. Money is not everything, but sometimes without money everything is nothing..
Sangat manusiawi apabila mereka-mereka yang memiliki kinerja yang bagus
dan dedikasi serta loyalitas yang tinggi harus takluk pada kebutuhan yang paling mendasar yaitu uang.

Tapi, ada satu hal yang masih menggelitik pikiranku. Aku pernah membaca di majalah SWA pada edisi yang membahas tentang para eksekutif muda dan
eksekutif yang diburu oleh headhunters (para pencari, pemburu, dan pembajak tenaga kerja level eksekutif dari perusahaan lain). Di artikel itu, tertulis bahwa dua pucuk pimpinan Trans TV, yaitu Ishadi SK dan Wishnutama adalah dua eksekutif yang menerima take home pay lebih dari Rp 100 juta per bulan.

Mengingat struktur organisasi Trans TV yang cenderung flat, ketimpangan ini

membuatku kembali bertanya-tanya. …

Iklan

26 Komentar

  1. Kunjungi situs http://transtvnews.blogspot.com

    ========================
    Pien: Wah. Makin banyak info menarik di sana..

  2. data data dari tulisan di atas hampir bisa dikatakan sepenuhnya benar. setidaknya hal itu terjadi sampai 6 bulan yang lalu. setelah eksodusnya sebagian besar karyawan ke TV One, perusahaan sudah menaikkan gaji pokok hampir 100%, walaupun besarannya masih di bawah standar TV swasta nasional yang lain. Tapi sisi positif dari keadaan ini adalah rasa kebersamaan antar karyawan yang kuat. rasa senasib yang membuat kuatnya kekerabatan antar karyawan. sehingga turunnya ilmu dari senior ke junior bisa berjalan lancar. tidak ada karyawan yang pelit membagi ilmunya. Adalah hal yang biasa jika karyawan trans tv memiliki skill yang lebih baik. setiap karyawan harus bisa menguasai berbagai bidang pekerjaan yang berhubungan dengan profesinya. contohnya, seorang presenter atau reporter juga harus bisa menjadi seorang camera person. karena bisa jadi dia harus berangkat liputan sendiri. dan seorang camera person harus bisa menjadi reporter atau menjadi audioman, atau lihtingman bahkan jadi editor sekalipun. hal ini akan lebih mempercepat mereka dalam bekerja, dan membuat skill menjadi terasah dan bisa belajar lebih banyak. ketika ada orang luar bertanya kepada kami “dimana anda bekerja??” kami akan jawab “DI KAMPUS TRANS TV” karena di sana memang tempat untuk belajar. ketika ada karyawan yang keluar dari perusahaan ini, kami selalu mengucapkan selamat, “SELAMAT ANDA TELAH LULUS DARI KAMPUS KITA TERCINTA INI” .

    ==========================
    Pien: Wah, banyak pelajaran yang bisa dipetik. Kita bisa survive dengan banyak keahlian. Awalnya aku berpikir bisa membuat berita itu, suatu yang hebat. Ternyata tanpa pengetahuan mengoperasikan halaman (pakai sistem adope page maker) aku bukan siapa2. Apalagi kalau layout kita tak datang tepat waktu..Ilmu itu sangat membantu…Yang kedua adalah sebuah team dan suasana kerja…

    Salut untuk alumni Trans TV…Pengkaderan kadang2 tak hanya ada di kandang sendiri..Aku percaya itu

  3. Jangan sampe terjadi juga sama padek

    ================================
    Pien: Ya semoga…Doain ya wem..Moga blog ini juga dibaca oleh jajaran pemimpin..

  4. info yang menarik pien.
    saya jadi ingat seorang kawan yang menulis ‘kegelisahan’nya bekerja disana, ehm,, saya pikir bukan karena masalah money semata.. tapi saya yakin ada faktor lain yang lain juga….
    btw, semoga gak kejadian di padek ya.. πŸ™‚ , maaf, saya sempat dengar gosip begitu ..

    ======================================
    Pien: Thanks Ria. Memang money oriented aja, tapi dalam suatu tim kerja, apalagi di dunia jurnalis adalah rasa nyaman. Suasana kerja yang kondusif.
    N soal Padek..Sama-sama doain yaaa..

  5. weks panjang lai

    ===================
    Pien: Panjang tapi berisi nton…. he he he…

  6. kenyamanan kerja, kunci jawabannya………

    Pien: Sepakat bi…Ayo kita ciptakan sama-sama bi…

  7. Sayang ya sampai eksodus sebesar itu, image nya bisa jelek dua-duanya….
    Setuju kenyamanan kerja kuncinya, termasuk kenyamanan perut hehehe…
    Kalau di tempat saya ada Perjanjian Kerja Bersama (PKB) yg di rumuskan dan di ttd manajemen dan wakil karyawan di Serikat Pekerja, di PKB itu diatur hubungan industrial antara karyawan dan perusahaan, tentu saja hubungan yang saling menguntungkan…

    ==================================================
    Pien: Sayangnya tak semua perusahaan pers punya Serikat Pekerja. Karyawan mau teriak ya tinggal solo song aja mas ded..he he….

  8. Prihatin aja, bayangkan kalau hal seperti ini terjadi di padang ekspres

  9. wah seperti baca pantau. Tapi benar lo itu soal uang penting hehe. Kita punya pengalaman di MImbarminang dulu. Alumninya sekarang udah kemana-mana dan mimbarnya jadi kosong. Aduuuh semogaaa

    ======================================
    Pien: Ya benar uni..Mimbar Minang dan Semangat menjadi bukti, kesejahteraan perlu untuk SDM yang berkualitas. Dunia dan perusahaan pers Sumbar harus terus belajar. Harus..

  10. Mari kita eksodus……..! tapi ke mana yach??? hehe ehehehe
    =================
    Pien: Kita survei dulu pak…He he he..

  11. Kenyamanan dan penghargaan terhadap manusia itu kuncinya. Karena itu, filosofi manajemen terbaru adalah bagaimana memanusiakan manusia. Kalau ada yang mengatakan bahwa manajemen tak punya hati, itu kuno yang lahir dari manusia kuno. Karena itu, semua orang termasuk praktisi manajemen diharapkan mengupadate ilmunya. Mungkin termasuk di Trans Corp dan di lembaga kita.
    Manakala kita belum menghargai bahwa karyawan itu manusia, maka eksodus akan terus terjadi. Benar kan Vin ?

    =====================================
    Pien:Yup sepakat bang…Kadang kita terdorong untuk mengeneralisir persoalan pada warna yang telah terbentuk (tak memanusiakan manusia). Hingga kita lupa melihat kebenaran secara utuh.

  12. “Mbak pien kerja di Trans Tv yaa…
    apa benar tuh gajinya kecil???, padahal trans tv memiliki nama besar yang patut di perhitungkan… acara nya juga banyak jadi acara terbaik..

    saya juga berniat begabung dengan Trans Tv tahun depan, tapi melihat ini jadi mudur lagi..apakah gaji reporter, pembawa berita, maupun yang di belakang panggung di gaji tidak sesuai dengan hasil kerja nya… Oh my good…”

    ===========================
    Pien: Bukan, saya ga kerja di Trans…Saya kerja di perusahaan Jawa Pos di Padang…Tentang kebenaran, yah kemungkinan hanya mereka yang tahu..

  13. Jadi PNS aja seperti saya … kerja di Pustekkom, kerja nnyantai gaji full, masih banyak kegiatan yang banyak menghasilkan tambahan ….

    =============================
    Pien: Semua orang punya pilihan.

    • wah lo koruptor pns. korupsi waktu bukannya kerja malah maen2x bisnis yang lain. pantesan output pns gak ada yang becus. bukannya melayani malah ongkang2x kaki makan gaji buta.
      dasar pns koruptor.

  14. OOooo..?

  15. Kalo skrg (taun 2010) gaji kerja di trans tv brp? Msh paling rendah diantara tv nasional?

  16. cuih.. kata kampus hanya dialektika dan propaganda untuk membayar murah!

  17. skarang kabarnya gmn ya? udah ada peningkatan nggak? tolong tanyain ke teman anda dong… sy mau ikut psikotes buat Finance staff, tp klo duit gaji cuma segitu doang jd ilFiL…..

  18. Berita ini udah pernah dikonfirmasi sama pihak transcorp belum?
    Duh, gara2 baca berita ini, cita2 dari smp jadi KANDAS πŸ˜₯ padahal tinggal dua langkah lagi :”(

  19. gimana neh, apakah untuk bulan ini juga gaji trans corp masih kecil dari tv swasta yang lain?saya di undang interview oleh transcorp utk jadi reporter/presenter? kr2 ada kontrak dan penalty nya ga ya? please bantu dong!

  20. menurutku anda benar…saya sendiri mantan karyawan tra*** tv tepatnya tahun 2005. waktu itu gaji saya 1,2 jt plus uang makan 8.500,-. Memang suasana kerjanya nyaman, tapi penghasilan mepet, cukup 6 bulan lalu saya keluar. Puji Tuhan, setelah itu diterima jadi pns di instansi pemerintahan yang udah remunerasi..gaji jauh lebih besar dan suasana kerja juga lebih nyaman hehehe…

  21. apakah sekarang masih seperti itu..??
    mohon penjelasannya…

  22. rupanya begitu… tapi itu masih mending ketimbang saya… saya bekerja di salah satu stasiun tv lokal di daerah saya… saya sebagai editor… merangkap wartawan hanya di gaji Rp. 700.000 + Rp 250.000 perbulan belum cicilan motor 675.000 perbulan.. hasilnya cuma berapa… sakit bekerja di televisi

  23. Tulisannya akan lebih baik lagi klo covering both side. . .thx, good info. . .

  24. Pacar saya tahun ini diterima di Transtv sbg staff on air, gapok nya 2,8jt+tambahan jadi 3.1jt.. Menurut saya media terlalu melebihkan masalah gaji transtv yg kecil, setau saya teman saya yg kerja di tv swasta lain yaa gak terlalu jauh beda dg gaji pegawai transtv. memang sih buat ukuran jakarta itu standar bgt, tp yaa balik ke niat awal kerja nya sih, pengen kerja cari pengalaman apa money oriented?? pacar saya niatnya mau belajar, karna dia memang basic nya sesuai, dia mau menuhin CV nya dg pengalaman kerja di perusahaan yg lumayan oke. tapi masalah cukup atau gak yaa balik ke tingkat konsumtifnya masing2 yaaa, tp ini mas pacar lg getol daftar pns. Kenapa PNS padhal klo mau money oriented, gapok nya malah gedean transtv loh!? yaaa itu td, relatif! tergantung apa yg menurut sodara-sodara baik buat anda πŸ™‚

  25. iya nih saya jg mu intrview bsok,,, kira2 mash sprti itu gak ya,,,, 😦


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s