Wartawati Andalanku Menikah

Wartawatiku

kumpul disela-sela rapat pagi

Awalnya, mempunyai wartawati di Padang Ekspres suatu hal yang kiamat. Karena bos kami (waktu itu-H Wizian Yoetri) memang susah berkomunikasi dengan perempuan. Bukan karena apa-apa, tapi memang sudah bawaannya.

Bahkan, (kalau bisa) memberikan tugas kepada wartawati dengan SMS, ketimbang berhadapan langsung untuk memproyeksikan liputan. Entahlah, itu suatu kekurangan atau kelebihan. Hanya sudut pandang saja yang membedakan.
Di samping itu, (di kalangan para perintis) fenomena perempuan staminanya terbatas, waktu kerja sedikit dan hanya menyusahkan dengan segala rengekanya, menjadi sebuah momok penghalang.  Ya setidaknya begitulah yang dikembangkan di lingkungan kerja harian pagi referensi itu.

Saat itu, tepatnya ketika saya baru masuk (2002), wartawati hanya tiga orang. Zulfia Anita, Sylvia dan Vinna Melwanti. Sebelumnya ada yang namanya Susi dan Veni, namun keduanya hijrah ke divisi lain setelah menikah. Sementara Suryani saat itu sudah di posisi redaktur.

Boleh dibilang kami bertiga, wartawati yang paling tahan banting. Tahan banting dari penugasan. Tahan banting dari perbandingan dengan wartawan didominasi pria. Ya, pria-pria dengan berbagai macam karakter, dari buser hingga budayawan, digabung dengan nyeleneh dan “mulut manis” yang sering mereka lontarkan. Pokoknya tak ada perbedaan. Kami diperlakukan layaknya pria.

Jika Zulfia Anita diidentikan wanita perkasa yang bergelut dengan dunia pasar dan beringasnya Pol PP. Kalau saya dan Sylvia, dikatakan wanita malam. Ya. Wartawati yang selalu pulang malam. Kebagian tugas hingga malam hari. Bahkan, meliput peristiwa yang ada di saat orang normal sudah tidur nyenyak. Begitu seterusnya, hingga bertahun lamanya.

Hingga akhirnya, kami kedatangan wartawati baru. Ada Afrianingsih, Neni Kumalasari dan Mahardikawati. Saat kedatangan mereka, aku disambut pula dengan kehilangan teman wartawati. Sylvia yang menikah dengan sesama wartawan satu angkatannya, hingga memilih hengkang dari dunia jurnalis. Serta One Ita (Zulfia Anita) yang mulai turun semangat kerja dengan persoalan keluarga.

Aku merasa punya kawan, adik dan teman wartawati. Kedatangan mereka (bagi pribadi saya) bagai kader dan perpanjangan tangan dari obsesi dan impian. Ya, begitulah harapan dan asaku.
Diam-diam saya mencoba untuk mentransformasikan ilmu. Neni, contohnya. Aku yang dulu mangkal di BPS, mencoba untuk memberi masukan pembuatan berita ekonomi. Memberi dia sprit karena wartawan spesialis ekonomi (selepas Alfitra) sudah tak ada, dan dia punya kans untuk itu.

Sementara Mahardikawati dan Afrianingsih, begitu juga Neni. Kucoba mengkaderkan edisi minggu yang tahunan aku gawangi, khususnya Anggun, Beranda, Kuliner, Gaul dan Kisah. Menyerahkan seluruh relasi dan berbagai informasi.
Namun sayang, ketiganya kini pergi, karena membentuk mahligai rumah tangga. Neni yang semula bertahan setelah menikah juga harus kalah oleh keadaan. Di samping ada faktor X lain yang membuatnya keluar dari dunia jurnalis. Menyusul Ciwat (panggilan Mahardikawati) yang diboyong sang suami ke Kalimantan.
Dan yang paling fresh adalah Neneng alias Afrianingsih Putri. Ia yang kemarin (9/11) disunting Rommi Delviano, yang juga wartawan Padek, otomatis bernasib seperti Sylvia. Peraturan Jawa Pos, memang tak membolehkan karyawannya menikah sekandang (sesama group). Tak profesional nanti, begitu isi peraturan.

Angkatan selanjutnya pun menyusul. Kali ini wartawati yang diterima malah lebih banyak. Ada Rahmi Amalia, Zikriniati ZN, Fedwina Laura, Dina, Juwita DH dan Laura. Seleksi alam pun bermain. Laura, Fedwina dan Juwita berhenti di tengah jalan. Alasan mereka senada, ingin mencoba peruntungan di rutinitas PNS guru. Sementara Dina yang ditransfer ke Padang TV dan sempat dikembalikan lagi ke Padek, berhenti karena mendapat tawaran kerja di perbankan.

Kini hanya tinggal Rahmi Amalia dan Zikriniati ZN. Dan Lia (sebutan Rahmi) kemarin pun menikah dengan kekasih yang sudah dipacarinya sejak kuliah. Kesinambungannya untuk konsisten bekerja belum tahu. Apakah bernasib seperti Neni atau luntur seperti One Ita. Hanya waktu yang bisa menjawab.
Kini aku hanya punya wartawati Zikriniati ZN seorang. Ya hanya tinggal Nia. Asa dan harapanku hanya ditampungkan kepada dia. Dia memang tak bisa dibandingkan dengan wanita perkasa dan wanita malam, sejarah dulu kami punya. Tapi setidaknya, ia berhasil melalui tekanan pekerjaan gila, bernama wartawan.

Dan yang terbaru saat ini, Padek mendapat tiga lagi calon reporter wanita. Ada Gusti Ayu, Nenengsih dan Rosanti. Semoga mereka bertahan. Bertahan dari pemikiran pesimis. Karena saat ini Padek sedang dilanda krisis kepercayaan kepada “wartawati” karena fenomena yang dilalui. Wajar saja. Sejarah hanya datang sekali bukan?

Selamat jalan para wartawatiku. Semoga semua ilmu dan hal yang membuat kita jatuh bangun di Padek, menjadi ilmu manfaat di tempatmu sekarang berada. Pintar bersosialisasi dan bergaul serta pergunakanlah networking dan teamwork yang sudah ada, menjadi bekal hidup selanjutnya. Dan selamat menempuh hidup baru kepada Neneng dan Lia. Semoga membentuk keluarga yang sakinah. Amin. Ah..Wartawati andalanku sudah Pergi…

Iklan

11 Komentar

  1. Datang dan Pergi, biasa dalam hidup… Yang celaka kalau sial datang dan datang -> ini namanya musibah 😀 (gak nyambung nih, sorry)
    ================
    Pien: Kalau datang dan datang gpp pak Ded..Kan bisa disalurkan ke anak perusahaan lain..He he..Cuma ya harus perhatikan juga situasi n kondisi.. 🙂

  2. walaupun dah menikah en dah dirumah, kalo hobby… jurnalis bisa dituangkan dlm blog kok dari rumah.

    ======================
    Pien: Ya, Berkarya juga bisa dimana pun..Sepakat Wemp..

  3. Jodoh memang ditangan Tuhan, semua udah diatur yang maha kuasa.

    =======================
    Pien: Tul Pak…

  4. Ya benar Vin. Abang juga menyampaikan selama buat adik-adik kita yang berbahagia. Mereka dulu bagian dari tim kita semua. Semoga perjalanan hidup mereka berjalan mulus.

    ===========================
    Pien: Amin. Thanks doanya bang…Spirit abang kepada kami masih kami rasakan. Dan semoga selalu. Amin.

  5. wah itu ciwat, neneng dan lia yang saya kenal 🙂 hehehe.. ternyata lia nikah juga yaaa?

    yah, begitulah hidup pien,… dan tak bisa dipungkiri, menjadi wanita kadang memang dilematis…. saya rasa tak sekedar masalah pesimis semata, hanya kadang nasib harus membawa kesana…(halah!!! nyambung gak yaaa?/) 😉

    ===============================
    Pien: Hmmm Bukan Ciwat yang difoto Ria, tapi Nia…Foto itu diambil lagi disela-sela rapat pagi…
    Menjadi wanita saja adalah tantangan..Apalagi dihadapkan sebuah fenomena pesimisan. Bahwa kita bagian dari hegemoni patriarkhi yang rumit ini. Bahwa kita dibesarkan dalam konstruksi gender yang timpang. Aneh…Tapi itulah tantangan hidup.

  6. Whuaa… koq tiba2 Na ikutan sedih ya. Jadi gitu ya kak? Umm… (*perasaan campur aduk aneh*)

    ============================================
    Pien: Sejarah yang bicara dek…He he he…Kita semua harus berani menghadapi…Termasuk nilna ya..Semangat!!!!

  7. uhuuyyyyy…..

    piennnnnn…….

    ada nama gw juga rupanya disana….hihihihihihihihiiiiiii……..

    tenang pien.. masih ada gw kok..jangan nagis yaa….
    =======================
    Pien: Wkwkwwk…Gak kok san…Dah kering kok air mata…Met bergabung, semoga bisa melewati dan raih kemenangan…

  8. ** 🙂 pien.. maksudnya yang ditulis di ceritanya itu ciwat yang ria kenal.. hehehe 🙂 bukan yang difoto (kalo ciwat bisa dideteksi deh gaya nya.. ^__^)..

    =======================
    Pien: Wkwkwkw…Iya bener, gaya ciwat gampang dideteksi..Doi punya style sendiri ria he he….

  9. oh kakak.. meninggalkan padek memang berat. Tapi keputusan itu sebuah langkah terbaik. Sebagai wanita, tentunya iwat mau menikah, dan hal yang utama ialah mengabdi kepada suami. Tetepi apa yang telah iwat dapati di padek amat berguna. Mungkin ada sebagian teman yang lupa. Setelah keluar dari padek, lupa menjaga networking, tetapi insya Allah iwat ngak. Komunikasi dengan relasi masih jalan hingga sekarang. Malahan masih sering di tellpon.
    Ada yang datang dan ada yang pergi, yah itulah hidup. Harus dijalani, kalau ga seperti itu, cakrawala yang akan indah. Slamat punya wartawan baru yach kak. Doakan kami selalu. Tapi sebuah pertanyaan, Kapan kakak nyusul kami????? Smoga Padek tetap jaya dan semangat.

    =======================
    Pien: Amin..Kalau semuanya dapat menjadi manfaat bagi iwat..
    Nyusul?? Doain aja wat.. Kadang mengalah untuk menang…He he he..
    Yang menentukan di Atas wat… Semoga tahun 2009 yaaa…Amiiin…

  10. Datang dan pergi dalam hidup ini adalah yang hal yang biasa pien..Justru yang abadi itu adalah perubahan kan..
    Meninggalkan padek memang berat, tetapi sekali lagi pien, hidup ini adalah pilihan..
    Selamat dapat wartawan baru ya, semoga lebih sukses..
    Begitu juga vina, selamat juga diposisinya yang sekarang. Tapi jangan terlena karena pekerjaan pien, didoakan semoga cepat dan sukses terus kerjanya…amiinn

  11. nia menepati janji kan kak vin, meski sudah berkeluarga dan punya anak, tetap jadi wartawati, hehehe, meskipun di daerah yang penting berkarya..hehee


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s