Rutinitas bernama Audi..

Sejak kecil, aku punya masalah dengan rutinitas. Semasa bersekolah, aku sering bertanya-tanya sendiri: kenapa aku harus berada di tempat yang sama, pada waktu yang sama, dan pada hari-hari yang sama. Terus menerus? Akibatnya, aku sering membuat “variasi” sendiri, misalnya dengan bolos, nyemok, datang terlambat (didukung lagi oleh penyakit malas bangun pagi yang kronis). Itulah salah satu alasan utama memilih profesi yang aku jalankan sekarang. Profesi di bidang jurnalis memang cenderung berskema lebih chaotic, dengan pola waktu dan aktivitas yang berubah-ubah. Meski kadang menulis pun butuh rutinitas, tapi biasanya tidak berlangsung dalam waktu lama.

Namun, sekarang ada satu rutinitas baru yang tengah aku jalankan. Tentunya ini jadi fenomena langka. Sepanjang ingatan, tidak banyak rutinitas yang aku pilih melalui inisiatif sendiri, lebih banyak karena terpaksa (mis. sekolah). Rutinitas baru ini tak punya judul resmi. Berlangsung setiap malam. Yah, permainan game online yang ternyata mencuri perhatian, yakni Audition alias Audi.

Kegiatan itu sendiri sudah berlangsung sejak Desember Tahun 2008 di Jakarta. Dan, pengenalnya sendiri dari ponakan dan kakak ketika liburan di Jakarta. Namun baru terakhirlah aku muncul rutin di sana, ini pun sudah telah bahas, dalam tulisan pertama, Keranjingan Ayo Dance.

Kini, kegiatan itu berubah. Tak lagi sekadar berinteraksi dengan ponakan dan kakakku, kini juga sebagai ajang komunikasi dengan kekasih hati yang berhubungan jarak jauh (shy mode on). Bermain bersama sekaligus menjadi ajang penambah komunikasi kami.

Anehnya rutinitas ini menjadi bagian kehidupan. Tapi memang tak selamanya aku mencurahkan ke sana. Itu pun hanya ketika jenuh dan rindu yang mendera. Ya, jenuh dengan pekerjaan dan rindu dengannya.

Tak ada yang menyangkal, siapapun mempunyai sifat anak-anak dalam diri yang disalurkan pada sebuah permainan. Siapa bilang kalau orang dewasa, tidak memanfaatkan game dalam kehidupannya. Jika tidak, maka semua provider HP yang ada di dunia ini tak akan memasang fasilitas game dalam accesorisnya, begitupun dengan komputer dan notebook.

Kita pun tak bisa juga langsung mengklaim, jika kita punya hobi ini membuat langsung disebut anak kecil. Ini bukan suatu pembenaran, tapi begitulah adanya. Rutinitas ini pun, sudah jarang ku lakukan. Mungkin karena kondisi yang tak memungkinkan. Akses internet dan juga warnet game online yang langka karena gempa meluluhlantakan bangunan di Padang.

Kini rutinitas itu menjadi hal yang kurindukan. Meski tak terlalu menggebu-gebu, hanya merindu terhadap hal yang kucap sebagai rutinitas baru hidupku. ^^

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s