Menangis Bermalam-malam..

Sepertinya aku melakukan Re-post, tapi memang ini kembali yang kurasakan.. Tepatnya di bulan Oktober. Dan kembali, Ini bukan judul lagu. Atau sebuah puisi di siang hari. Namun memang kenyataan yang terjadi pada diri ini. Ah, Kalau ditilik, sudah lama aku tak menangis sampai sakit seperti ini. Dan sudah lama juga, hati ini ku tameng sedemikian rupa, agar tak menangis. Namun malam itu, semua pertahanan itu hancur. Hati ini menangis, jiwa itu meleleh. Aku menangis semalaman.

Mungkin yang menjadi penyebab tak usah dijelaskan. Tapi yang pasti garis besar masalah hati, suatu kekecewaan yang tak diinginkan. Saat hati ini menginginkan suatu dan menyadari sesuatu, namun dihempaskan dengan keras. Kecewa, sakit dan menyesal. Hingga akhirnya perih itu berubah menjadi tangis.

Entah sudah berapa lama aku tak menangis. Selain bukan seorang wanita yang gampang menitikan air mata, juga berbagai cobaan di diri tak pernah kulalui dengan tangisan. Di teror seseorang, kabar kematian saudara, ataupun kisah percintaan yang berakhir pilu, tak membuatku menangis sesegukan seperti malam di bulan Oktober itu.

Terakhir yang ku ingat, diri ini menangis, ketika kakakku yang laki-laki menikah dengan wanita yang semula memang tak kuinginkan. Menangis hingga berhari-hari. Tak terima dan perasaan sakit hati, berkecamuk hebat. Nah itu pun, sudah 4 tahun lamanya.

Aku sendiri bertanya-tanya, kenapa bisa menangis saat itu? Kemana sosok seorang Vinna yang tegar? Apakah kerapuhan ini sosok aslinya? Atau hanya suatu akumulasi tegar yang berkumpul dan ditahan selama ini, meledak seketika. Ah, aku tak tahu jawabnya.

Namun yang pasti, pagi harinya aku menarik kesimpulan. Bahwa menangis itu perlu. Menangis akan membersihkan mata dari segala bentuk racun atau debu yang menempel padanya.

Dengan menangis, perasaan emosi, rasa sedih, marah, dan perasaan-perasaan lain yang seringkali menimpa manusia akan lebih terjaga.

Dan dengan menangis, kita menjadi tahu perasaan kita sebenarnya. Dan juga lebih berhati-hati untuk kedepannya.

Iklan

Pemerintah dan Media Belajarlah dari Jepang

Gempa dan tsunami yang mengguncang Jepang, memang membuat warga Kota Padang tergidik. Bagaimana tidak? Sebanyak 1 juta warga Padang berada di zona merah.  “Sudah waktunya pemerintah harus fokus bencana. Jangan selalu reaktif dan terdiam. terlebih lagi tidak berfungsinya alat pendeteksi gempa dan tsunami,” lontar Wapemred Padang Ekspres Heri Sugiarto kepada Pemred Padang TV, Vinna Melwanti dalam diskusi Dapur Redaksi, Sabtu (19/3).

Peristiwa di negara matahari terbit itu memang dahsyat. Tsunami setinggi 10 meter membuat jutaan rumah dan ribuan infrastruktur hancur dan Jepang lumpuh total. Padahal negara ini yang paling siap dalam menghadapi segala kemungkinan bencana, baik gempa maupun tsunami. Lalu bagaimana dengan daerah kita yang juga masuk dalam jajararan rawan bencana? Seberapa siapkah kita?

“Sangat belum siap. Bahkan tak hanya yang akan kita kerjakan, pekerjaan rumah sebelumnya banyak yang tak selesai. Bukan saja jalur evakuasi by pass yang digadang gadangkan masih terkatung, bangunan yang tak ramah gempa, hingga kurikulum pendidikan gempa yang juga tak kunjung selesai,” sambar Pemred Posmetro Padang, Sulaiman Tanjung menjawab pertanyaan.

Jika dibandingkan dengan kesiapan. Kita memang jauh. Jauh sekali. Namun yang pasti infrastruktur, perhatian pemerintah dan kesadaran warganya, harus segera diprioritaskan. “Kita pun harus mengevaluasi zona shelter yang saat ini dibangun. Karena bisa saja, zona itu berubah jika dilihat dari kekuatan 25 KM Jepang. Selain itu simulasi dan kegiatan pemantapan prilaku masyarakat dalam menghadapi kemungkinan terjadi gempa dan tsunami, tambah Heri.

Disisi lain, Vinna juga mengupas bagaimana media menjadi dua sisi mata uang yang dilema dalam memberikan informasi bencana. Apalagi memberitakan isu yang sedang berkembang di tengah masyarakat. Menjadi kabar penakut, atau memberikan informasi yang sebenarnya kepada masyarakat.

“Kita mengolah isu menjadi suatu yang bermanfaat. Masyarakat harus diberikan fakta informasi. Dan juga media harus memberikan ruang informasi dan tips tentang menghadapi bencana. Tentunya mendorong pemerintah agar konsen terhadap pembangunan yang berwawasan mitigasi,”  urai Tanjung.

Semoga saja, kita belajar tak hanya selalu berada dalam tataran konsep. Pembelajaran Aceh, Jogya dan Mentawai serta Jepang ini makin membuat Sumbar naik kelas dalam hal kesiapan mitigasi. Saksikan Program dapur redaksi yang ditayangkan setiap Sabtu pukul 20.00 WIB ini mengupas berita yang diangkat dalam seminggu, di Harian Pagi Padang Ekspres dan Posmetro Padang. Saksikan hanya di Padang TV. (vin)

Antara ada dan Tiada

Ketika Ilusi Lebih Indah dari Kenyataan

Manusia, sesungguhnya, hidup didalam ILUSI. Kenyataan yang seolah menempatkan Manusia hidup bersentuhan dengan FAKTA pada kenyataannya adalah sebuah ILUSI karena seringkali FAKTA KEHILANGAN REALITASNYA didalam kehidupan Manusia. Itulah sebabnya, DERITA seseorang belum tentu merupakan DERITA bagi orang lain, dan KEBAHAGIAAN seseorang belum tentu pula sebuah KEBAHAGIAAN bagi pribadi lainnya. Setiap orang membangun DUNIA miliknya sendiri, didalamnya ia menimbun makna dan segala keyakinan hidup yang lalu menjelma menjadi BANGUNAN REALITAS BAGI DIRINYA SENDIRI. Dengan cara itulah seseorang hidup, karena dengan membangun dunianya maka ia membangun dirinya sendiri pula. Dunia dan diri yang dibangun secara berbarengan ini, tak pelak lagi, merupakan PURI TERPENCIL ditengah padang luas; ia TERASING didalam angan dan harapan miliknya sendiri. Padang rumput yang terbentang luas, adalah kelana asing yang disangkanya kejam dan menakutkan. DISANGKANYA.

Pernahkah kau keluar dari ‘zona amanmu’?
Hal apakah yang kau rasakan tatkala bersentuhan dengan sesuatu yang mulanya kau ‘sangka’ asing dan kejam itu?
Ketika kau dapat beradaptasi dengan REALITAS BARU itu, dapatkah kau hidup dengannya?
Bila jawabmu adalah AKU DAPAT HIDUP DENGAN KENYATAAN BARU, maka, tepat pada saat itu pula kau tengah membangun REALITAS BARU BAGI DUNIA BARUMU..

Live Iven Pemilu Itu Bercerita…

quick-countHingar-bingar pemilihan umum saat ini, ditampilkan Padang TV dalam tayangan live event Pemilu 2009. Tak hanya itu, pengolahan data real qount Padang TV yang mengakses rekapitulasi suara, menjadi tayangan yang ditunggu-tunggu para pemirsa. Siapa saja orang-orang kreatif di TV yang memoles tayangan itu?

WAJAH Minerva Rahmadona dan Siska Wulandari tampak memerah. Di depannya, Pengamat Sosial Vince Heri sedang berapi-api menyampaikan pendapat saat event Pemilu 9 April kemarin. “Suasana kacau memang sudah diprediksi sejak awal. Mau apalagi, ini merupakan sistem yang berbeda dan perdana,” ungkap Vince saat tampil menjadi komentator pada segmen awal Live iven Pemilu yang diditayangkan mulai pukul 15.00 WIB.

Komentar itu pun diperkuat dengan live report by phone dari beberapa koresponden daerah yang menjelaskan suasana pemilu di daerah masing-masing. Tak terkecuali, Pemred Padang Ekspres Firdaus dan Posmetro Padang Sukri Umar ikut memberikan pantauan suasana di tempatnya memberikan hak pilih.

Live iven Pemilu 2009 ini memang merupakan puncak dari rangkaian dari program Pemilu Padang TV semenjak 3 bulan lalu. Dari detak Pemilu, menuju kursi legislatif hingga Alek Demokrasi yang menjadi andalan program Pemilu.

Yang namanya puncak, maka dikerahkan seluruh tim peliputan untuk mendukung tayangan pemilu, termasuk di biro daerah. Melalui rapat yang sering digelar malam hari, Pemred Padang TV Two Efly pun segera membentuk tim. Khusus untuk pengolahan data real qount, Tandri Eka Putra mengomandoi jalannya segala tabulasi data yang masuk dari berbagai daerah. Didukung oleh 50 mahasiswa dari BEM Unand, serta Vivi dan Iyud sebagai pengumpul dan pengola statistik data.

Tayangan real qount data ini pun mendapat sambutan positif dari Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi yang sempat menyambangi lokasi pusat pengolahan data di lantai II. Gubernur pun berharap agar tak ada margin of eror dalam sebuah perhitungan.

Sementara untuk penyuplai berita pun digawangi Wapemred, Vinna Melwanti dibantu dengan tangan-tangan produser handal, Dasrul dan Noval Wiska yang dibagi produser Live iven dengan tiga segmen. Eksprod Defri Mulyadi pun turun tangan untuk memastikan semua tayangan sempurna hingga akhir pukul 00.00 WIB. Eksprod pun mengkondisikan narasumber hadir baik Gubernur Sumbar, Gamawan Fauzi, Walikota Padang Fauzi Bahar, Ketua KPU Marzul Veri, dan ketiga komentator Vince Hero, Eka Vidia Putra dan Edi Endrizal.

Dalam tayangan live iven yang ditutup dengan menampilkan langsung Pemred menjadi presenter, juga tak terlepas dari para reporter yang selama satu jam terus menerus membuat dan mengupdate berita, dibantu oleh sekred Lia. “Kita musti memberikan yang terbaik bagi pemirsa, meski badan lelah,” ujar reporter Elda Akmal yang merayakan ulang tahunnya yang ke-26, Sabtu (11/4) kemarin. Padang TV, Maju Bersama. (vin)

“Panggil aku Adil.”

TimbanganA-dil? A-d-i-l?”

“Iya. Kenapa?”

“Nama kamu aneh.”

“Aneh? Hhh…Aku cape dengan nama ini. Semua orang selalu mencari aku. Semua selalu menuntut aku selalu hadir. Semua orang menarikku seenaknya. Semua ingin memilikiku. Semua orang. Tanpa kecuali. Pasti kamu juga. Kamu salah satu dari mereka.”

“Tidak. Aku tidak mencari kamu. Aku tidak pernah menginginkan kamu.”

“Bohong. Tidak mungkin kamu tidak mencari aku!”

“Aku tidak bohong!”

“Sombong sekali! Tidak ada yang tidak menginginkan aku!”

“Aku tidak sombong. Aku benar-benar tidak pernah mencari kamu.”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak kenal kamu. Aku tidak tahu tentang kamu. Bahkan aku tidak pernah dengar namamu.”

“Aneh. Kamu yang aneh sekarang. Siapa kamu?”

“Aku Sukses.

Sukses? Kamu temannya Hidup?

“Aku kenal Hidup. Tapi hanya sedikit yang berteman denganku. Aku kurang cocok dengan mereka.”

“Kenapa?”

“Kebanyakan dari mereka terlalu sombong dan culas. Mereka rakus. Mereka selalu menuntut segala hal. Mereka menginginkan semuanya. Pasti mereka juga yang mengejar dan menarik-narik kamu!”

“Lalu kamu berteman dengan Hidup yang seperti apa?”

“Segelintir dari mereka yang telah mengundurkan diri dari kelompok itu. Kelompok yang dipimpin Gagal. Kelompok yang rakus. Setelah keluar, mereka jadi temanku.”

“Cuma dengan menjadi temanmu, mereka tidak mengejarku lagi??”

“Mereka akan menerima kamu. Tapi tidak akan mengejarmu lagi. Aku yakin.”

“Kalian aneh! Kamu aneh! Bagaimana mungkin ada yang tidak menuntut aku, Si Adil? Siapa kamu sebenarnya?”

Sukses. Namaku Sukses! Sudah kubilang tadi.”